RENUNGILAH KISAH AL-QAMAH

Published March 10, 2010 by wana93

Dengan tergopoh-gopoh, isteri Al-Qamah menghadap Rasulullah SAW mengabarkan suaminya sakit. Beberapa hari mengalami naza’ tapi tak juga sembuh.

“Aku sangat kasihan kepadanya ya Rasulullah,” ratap perempuan itu.

Mendengar pengaduan wanita itu Nabi SAW merasa hiba. Beliau lalu mengutus sahabat Bilal, Shuhaib dan Ammar untuk menjenguk keadaan Al-Qamah. Keadaan Al-Qamah memang sudah dalam keadaan koma. Sahabat Bilal lalu membacakan tahlil di telinganya, anehnya seakan-akan mulut Al-Qamah rapat terkunci.

Berulang kali dicuba, mulutnya tetap tidak mahu membuka walaupun sedikit. Tiga sahabat itu lalu bergegas pulang dan mengkhabarkannya kepada Rasulullah SAW tentang keadaan Al-Qamah.

“Sudahkah dicuba bertalqin di telinganya?” tanya Nabi.

“Sudah Rasulullah, tetapi mulut itu tetap terbungkam rapat.”

“Biarlah aku sendiri pergi ke sana.” kata Nabi.

Pabila melihat keadaan Al-Qamah, Nabi bertanya kepada isteri Al-Qamah,

“Masihkah kedua orang tuanya?” tanya Nabi.

“Masih ya Rasulullah,” tetapi tinggal ibunya yang sudah tua.” jawab isterinya.

“Di mana dia sekarang?”

“Di rumahnya, tetapi rumahnya jauh dari sini.”

Tanpa banyak bicara , Rasulullah SAW lalu mengajak sahabatnya menemui ibu Al-Qamah mengabarkan anaknya yang sakit parah.

“Biarlah dia rasakan sendiri”, ujar ibu Al-Qamah.

“Tetapi dia sedang dalan keadaan nazak, apakah ibu tidak merasa kasihan kepada anakmu?” tanya Nabi.

“Dia berbuat dosa kepadaku,” jawabnya singkat.

“Ya, tetapi maafkanlah dia. Sudah sewajarnya ibu memaafkan dosa anaknya,” pujuk Nabi.

“Bagaimana aku harus memaafkan dia ya Rasulullah jika Al-Qamah selalu menyakiti hatiku sejak dia memiliki isteri,” kata ibu itu.

“Jika kau tidak mau memaafkannya, Al-Qamah tidak akan bisa mengucap kalimat syahadat, dan dia akan mati kafir,” kata Rasulullah.

“Biarlah dia ke neraka dengan dosanya,” jawab ibu itu.

Merasa pujukannya tidak berhasil meluluhkan hati ibu itu, Rasulullah lalu mencari ikhtiar lain. Rasulullah berkata kepada sahabatnya Bilal.

“Hai Bilal, kumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya,” perintah Nabi.

“Untuk apa kayu bakar itu Rasulullah,” tanya Bilal kehairanan.

“Akan kugunakan untuk membakar Al-Qamah, daripada dia hidup tersiksa seperti itu, jika dibakar dia akan lebih cepat mati, dan itu lebih baik karena tak lama menanggung sakit”, jawab Rasulullah.

Mendengar perkataan Nabi itu, ibu Al-Qamah jadi tersentak. Hatinya luluh membayangkan jadinya jika anak lelaki di bakar hidup-hidup. Ia menghadap Rasulullah sambil meratap,

“Wahai Rasulullah, jangan kau bakar anakku,” ratapnya.

Legalah kini hati Rasulullah karena bisa meluluhkan hati seorang ibu yang menaruh dendam kepada anak lelakinya. Beliau lalu mendatangi Al-Qamah dan menuntunya membaca talkin. Berbeza dengan sebelumnya, mulut Al-Qamah lantas bergerak membacakan kalimat zikir membaca syahadat seperti yang dituntunkan Nabi.

Jiwanya tenang kerana dosanya telah diampuni ibu kandungnya. Al-Qamah kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan fasih mengucapkan kalimat syahadat. Dia meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Sesungguhnya syurga adalah di bawah telapak kaki ibu.

be a soleh son

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: